Senin, 07 April 2014

Love in Dream 1

Ketika Raga merasa sendiri, pasti secara tidak langsung dia akan mencari teman yang bisa di ajak berbagi olehnya. Dan ketika rasa itu muncul secara perlahan kamu akan mengakui pada dirimu ataupun pada orang lain. Saat dia dekat kamu akan merasa takut untuk mengakui di hadapannya namun saat dia pergi kamu akan terlalu menyesal karna kamu telah mengabaikannya. Semua orang pasti pernah mengalami apa yang dinamakan dengan cinta??????
Ketika kau menanyakan itu semuanya akan menjawab dengan keinginan masing- masing dan egonya sendiri. Sebenarnya cukup sulit untuk mengartikan apa arti cinta?Karena semua orang mempunyai kenangan tersendiri soal cinta. Bagi orang yang punya kenangan manis soal cinta pasti dia akan menjawab bahwa " Cinta adalah sebuah Anugerah". Dan berbeda pula terhadap orang yang tidak mempunyai kenangan baik dengannya pasti dia akan menjawab bahwa "Cinta adalah Pengobanan". Saat kita menghadapi kedua jawaban itu kita tidak akan pernah menemukan arti yang sesungguhnya tapi justru akan membuat kita bertanya- tanya dan semakin penasaran tentang cinta!!!
Sebenarnya cinta itu nyata ataukah hanya sebuah ilusi??????
Dan kebingungan itu menjadi awal dari sebuah cerita.




Aku adalah Icha, Icha putri Rahardian lebih tepatnya. Aku adalah murid kelas 2 SMAN 2 Jakarta Selatan. Sekolah yang terkenal dengan kepandaian murid- muridnya itu dalam segala bidang, Menurut cerita dari orang- orang yang ku dengar selama ini. Tapi selama ini aku tidak pernah merasa bahwa aku adalah salah satu dari siswa tersebut.Saat pertama ku masuki sekolah tersebut aku merasa bahwa aku mempunyai keberuntungan yang belum tentu di miliki oleh semua anak seumuranku.Karena aku termasuk siswa yang cukup di bilang " Pas- pasan". Itulah selama ini yang membuatku merasa sedikit terbebani karena aku termasuk dari siswa sekolah "Cendekiawan",julukan untuk MY lovely school tersebut.
Sedikit bebanku terasa hilang saat aku menemukan dua sosok makhluk yang selama ini terus menemaniku. They are Imenia dan Henny, Dua orang sahabatku itu adalah dua orang terbaik yang ku miliki selama dua tahun bersekolah disini.
Seseorang berambut panjang nan indah telah memanggilku sejak dari tadi. Tapi suaranya sudah tak asing lagi bagiku, terasa ingin menutup kuping saja. Anehnya dia sangat suka benyanyi di hadapan orang meskipun kadang mendapat ledekan dari teman - teman kami semua, dia tak pernah memperdulikan apa kata orang soal dirinya.
"Cha, cepet dikit dong keburu antri nie."kata Henny yang sejak tadi terus memanggilku.
"Iya,tanggung nih bentar lagi juga kelar kok." Jawabku dengan tak memperdulikan kegaduhan yang di buat oleh Henny yang sejak dari tadi menungguku itu.
Segera ku rapikan semua barang - barang yang ada di bangku agar tak ada yang ketinggalan.
Lalu ku temui sahabatku yang dari tadi sudah menunjukkan bibir manyunnya itu.
" Lets go baby, jangan cemberut terus dong." kataku sambil merangkul bahunya yang cukup lapang itu.
" lo itu lama banget sih, nanti kalau pak tarno dah minggat gimana?". Celetusnya padaku.
" Gak mungkin lah Pak No ninggalin soulmetnya??? ledekku.
" Ih..... kurang ajar banget sih loe........" jawab Henny yang raut wajahnya mulai berubah menjadi sangat marah.
Melihatnya seperti itu aku mulai mencepatkankan langkahku, Sementara sadar kalau aku berlari Henny mengejarku dengan semampunya. Kita terlihat seperti seekor kucing yang sedang berusaha mendapatkan mangsanya.
" Cha jangan cepet- cepet dong gwa capek banget nih........", keluhnya yang mulai melambatkan kakinya.
Akhirnya aku berhenti dan menunggu sahabatku yang sudah terlihat sangat capek itu.
"Akhirnya sampe juga.....".Kata Henny yang sejak dari tadi sudah tak sabar menyantap pentol dari langganan kesayangannya itu. Yaph pak no adalah penjual langganan kami.
"Hen lo lihat nia nggak??? kayaknya dari tadi gue gak lihat dia dech........" Tanyaku pada Henny yang sedang asyik menyantap pentol kesayangannya itu.
" Sama aja gue juga gak liat dia kok............". Jawabnya susah payah karena penuh makanan di mulutnya.
Tiba- tiba saja ku dengar suara yang sudah tak asing lagi di telingaku yang berasal dari belakang tempat tongkrongan kami.
"Hen,,, Cha.....!!!!! Panggil seorang gadis cantik, memakai jilbab putih bersih dengan setumpuk buku di dekapannya. Yaph benar banget itu adalah imenia sahabatku.
" Kalian dah pada beli pentol yah....??? Ih ketinggalan dong aku. Rengeknya dengan manja.
" ya iyalah nungguin loe sama aja kayak nungguin batu sampe jadi batu rebus...." .Sahut Henny yang mulai menggoda imenia.
" Ya udahlah aku beli pentol dulu yah,.. Aku titip buku dulu yah cha....!!! Jawab nia seadanya.
Memang diantara kami bertiga nia termasuk murid yang paling sopan dan pandai. Dia tidak pernah menyebut kami dengan gue- lo atau apalah!!!!!!
Begitulah Hari- hariku terus berlangsung selama di sekolah ini, penuh dengan canda tawa , gurau dan kelucuan di setiap kami berkumpul bersama hingga tak memikirkan bahwa waktu cepat sekali berlalu.

Di pagi buta ini rasanya malas sekali untuk menyingkapkan selimut ini dari tubuhku. Tapi yang membuatku tak tahan adalah suara sesosok manusia yang tak pernah lelah untuk membangunkan kami semua agar melakukan kewajiban kami sebagai seorang muslim.
Suara itu kembali muncul dari depan pintu kamarku.
"Mbak..... Cepetan bangun. Ayah sudah nunggu dari tadi...." Panggil Umi untuk menyuruhku sholat.
"Iya mi... bentar lagi...." Jawabku pada Umi. Yaph Umi adalah ibuku yang sangat menyayangiku dan sekeluarga. Walaupun udah kepala empat tapi rasanya masih kayak Abg bgt. Aku aja sampek kalh sama penampilan Umy, Makanya umi gak bakalan khawatir deh kalau Ayah sampe berpindah ke lain hati. Hiihhhhi.....
Lalu ku langkahkan kaki ku menuju sebuah kamar kecil yang telah menemaniku selama 17 tahun ini. Aku mulai membasahi wajahku dengan sepercik air wudhu untuk segera menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah.
Yach begitulah,,,, setidaknya setiap hari itulah yang ku lakukan bersama keluargaku tercinta.
Setelah itu ku letakkan kepalaku dalam pelukan bantalku tersayang,rasanya aku tak bisa lagi menahan rasa kantuk yang sedari tadi menyergapku.
Tapi tiba- tiba......
Drtttt,, drtttt,, drtrt.......
Hpku berbunyi, ternyata 5 pesan masuk sudah menungguku sejak dari tadi.
Aku mulai mebacanya satu per satu.



+628569094xxxx
Hai cha?? dah bngun lum???

balas keluar




Rasanya malas sekali aku untuk menjawab pesan dari orang yang tak ku kenal.
Dan ternyata 4 pesan lagi itu isinya sama dan dari nomer yang sama pula.
Aku baru sadar kalau sejak tadi ada yang terus memperhatikanku di depan pintu kamarku.
" Masyaallah dek... dari tadi dicariin ma umi tuw..!!! Kok malah keasyiakan mainin Hp sich dek????????? ceramah kakakku panjang lebar.
" Iya.... kak!!! Jawabku seadanya.
Lalu ku langkahkan kakiku menuju dapur untuk membantu ibuku menyiapkan segala sesuatu di hari minggu ini. Aku hanya bisa pasrah menuruti semua kata kakakku tersayang itu. Setiap hari minggu memang sudah menjadi kewajibanku untuk menggantikan tugas yang selama ini dikerjakannya kurang lebih 20 tahun.
Ohw ya....... Kakakku itu namanya Meira Eka Rahardian. Yang nama belakangnya jelas terpampang nama ayahku itu, kesibukannya selama 3 tahun ini yang ku ketahui itu kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta. dan rencananya dia akan menyelesaikan skripsinya pada akhir tahun ini. Menurut orang orang, kakakku itu manis banget, trus baik hati juga gak kalah pinternya ma anak- anak lain.Yah,,, kalau di bandingkan ma aku yach jelas beda pastinya!!!


Rencananya di hari minggu ini sekeluarga akan mengunjungi nenekku yang tinggal di kawasan Puncak, Bogor. Makanya sepagi ini aku dan umi udah mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan nanti. Sedangkan Ayah dan Kakakku asyik lari- lari pagi di sekeliling taman kota.
Tapi tiba- tiba ada yang berteriak memanggil namaku...
"Cha..... keluar yukkk.... temenin lari- lari dong.." teriak Henny di depan rumahku.
" Siapa cha?? kok pagi- pagi udah teriak2 di depan rumah orang?" Tanya umi yang mengagetkanku.
"Ehm...." aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan umi.
" Mi,, aku pergi dulu yach....!! Assalamualaikum.....!!!! pamitku pada umiku yang memang sudah tau bahwa itu adalah suara Henny yang memanggilku sejak dari tadi.
Umiku memang di kenal sebagai ibu yang selalu terbuka dan menjadi teman untuk anaknya sendiri, termasuk juga temanku. Mereka yang sekali datang ke rumah bisa langsung akrab kepada umi. Makanya umi sampe hafal ma nama- nama temenku ataupun kakak sekaligus sifatnya juga. Uhw... mengagumkan yah umiku.......
Lalu ku hampiri sahabatku itu dan ku bungkam mulutnya yang dari tadi tak berhenti ngomong and teriak2 di depan rumah orang.
"ehmhhh.... apaan sich ca?? Napa pake bungkem mulut segala?? sakit tau???." keluh Henny yang tak terima ku perlakukan seperti itu.
"teriak - teriak aja di depan rumah orang, emangnya rumah nenek moyang lu,,"
"iyah dach,, maaphin gua" Henny dengan tampang melas andalannya.
Kalau sudah seperti itu aku gak akan mungkin ngebiarin sahabatku itu berlama - lama dalam dekapan tanganku. Kami berdua mulai berjalan di komplek perumahan ku, sampai menuju taman kota.
"Kemana nih kita???" tanyaku pada Henny yang mulai mengeluarkan lollipop kesukaannya.
"Jogging ajah, supaya sehat icha ku sayang".
"Eih, ya jangan lama - lama ya,, Gua mau ke rumah GrandMom"
"Siipp boss.." dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.
Wajar aja taman kota hari ini penuh dengan orang, untuk sekedar lari pagi ataupun sepeda santai dan berbagai jenis olahraga lainnya, namanya juga weekend. Aku sengaja memilih tempat paling asyik buat nongkrong, hehe...
Henny yang mulai dengan lollypop keduanya bercerita panjang lebar dengan topik yang menurutku gak begitu jelas, meskipun seperti itu tetap saja aku tak tega untuk tidak mendengar ceritanya. Ceritanya dari mulai ortunya yang mulai akur lagi, trus adiknya yang baru memasuki SMP, kucing tetangganya yang berantem gara -gara rebutan jatah makan, Ulangan bahasa Jepang yang disukainya, sampai pada cowok yang ditaksirnya. Uhw,, gak jelas banget kan topiknya.
Tapi yang terakhir itu menarik juga menurutku, jarang banget dia cerita tentang cowok tapi sekalinya cerita bisa bosen kupingku mendengarnya. Aku mulai tidak fokus mendengarnya bercerita, aku mulai melihat sekelilingku yang sudah mulai penuh sekali dengan orang - orang. Sampai mataku tertuju pada cowok tinggi, berkulit putih, tubuh yang kurang sixpack tapi imut banget pas ketawa. Aku terus saja ngliatin dia sambil senyum - senyum sendiri, soalnya lucu banget sih waktu dia lagi pemanasan buat jogging. Henny yang udah mulai sadar bahwa aku tak lagi menggubris critanya melihat juga ke arah yang sedang ku perhatikan saat itu.
"Heh, Non!! Senyam - senyum sendiri gak jelas banget deh lu.." Teriaknya yang membuatku buyar dari lamunanku.
"Siapa juga yang nglamun". Belaku sambil menjulurkan lidah.
"Tuh.. ngapain dari tadi ngeliatin Kak Mahesa sampai gak kedip gitu". Sambil menunjuk arah cowok tadi.
"Hehe.. lucu tau,, kayak anak kecil banget wajahnya"
"Mending samperin aja yukk,, dari pada dituduh penguntit lho"
"Nggak ahh, lu aja gua mau pulang".
"Ehh, gimana sih lu ca, gua kan nyamperinnya buat lho".
"Hah, buat gua???" jawabku dengan setengah berteriak.
"Ahh.. udah deh, ayo cepetan," Henny yang mulai sudah tak sabar dengan ku langsung aja menarik tanganku menuju Kak Mahesa. Sadar dengan kenekatannya, aku mencoba melepas lengan ku dari genggamannya. Setelah berhasil aku berjalan ke arah berlawanan dengan Henny. Tapi tiba - tiba...
"Hey cha,, Hen!!" Sapa seorang dibelakangku yang tak asing lagi ditelingaku.
"Hallo,, Kak mahesa" sergap Henny cepat dengan senyum termanisnya. Yang secara spontan membuatku berbalik. Aku hanya tersenyum yang mudah - mudahan tak terlihat gugup dengan kak mahesa yang sekarang sudah ada tepat dibelakangku.
"Lho, Icha dah mau pulang ya??" tanya Kak Mahesa tiba - tiba.
"Ehm,, enggak juga sih, cuma senam,, gerak - gerakin badan ajah,,!!" Uhw, alasan yang nggak bermutu, batinku. Kak Mahesa sepertinya tidak terlalu menanggapi jawabanku, dia cuma diam dan seperti sedang menimbang - nimbang untuk bertanya atau tidak. Dia berusaha membuka mulut tapi tak ada satupun kata yang keluar dan akhirnya hanya diam lagi. Henny yang sedari tadi di sampingku cuma diam aja, mulai nggak betah melihat situasi ini.
"Ehm, Kak Mahesa boleh minta tolong nggak??" Suara Henny memecah keheningan.
Kak Mahesa yang merasa dipanggil langsung aja jawab, "Minta tolong apa Hen?".
Uhh,,, Kak Mahesa nggak asyik banget, masak dari tadi diem aja. Nglamunin siapa sih, gerutuku dalam hati.
"Tolong anterin Icha pulang yach,, Aku buru - buru nih ada janji ma temenku, gak bisa nganterin icha deh. Bisa kan?"
Aku yang kaget mendengar pertanyaan Henny langsung menoleh dan memolotinya, tapi yang di pelototi malah nggak ngrasa sama sekali. Uhhw, sebell... Saat aku ingin memarahi Henny, tiba - tiba Kak Mahesa bilang "Ohw, beres dah Hen." dengan mantapnya.
Aku yang dari tadi diomongin mulai menyiapkan kata - kata bijak untuk menegur Henny dan menolak ajakan Kak Mahesa baru akan membuka suara, soalnya ini nggak boleh dilanjutin bisa gawat nanti urusannya. Aku membasahi mulutku yang dari tadi kering, dan hendak membalas mereka. Tapi dengan cepatnya Henny memelukku dan bilang "Manfaatin yah kesempatan ini, gua pergi dulu,,". Kemudian mengedipkan mata kanannya dengan senyuman yang paling ku benci.
"Kak Mahesa makasih ya, Aku pergi dulu, dahh,,," Henny mulai berlari sambil melambaikan tangannya.
Aku yang nggak betah diam mau mencoba mencegah Henny pergi tapi anak itu udah nylonong gitu aja cuma keliatan punggungnya. Aku menggerutu dalam hati dan mengomel sendiri nggak karuan, maksudnya Henny apa coba dengan menyuruh Kak Mahesa mengantarku pulang? Emangnya aku anak TK apa yang perlu diantar jemput, Trus satu lagi ngapain dia bilang "Manfaatin kesempatan yah",emangnya kesempatan apa? Dapat beasiswa apa, gila bener tuh anak batinku.
"Icha mau pulang sekarang ato nanti"? Kak Mahesa menyadarkan lamunanku.
Uhw, nggak sadar banget kalo ada Kak Mahesa gara - gara mikirin Henny yang nyebelin banget hari ini.

to be continue...

0 komentar:

Posting Komentar

Followers